Saturday, 7 August 2010

Biografi Muhammad Shahrur

:

A.Sketsa Kehidupan dan Perjalanan Intelektual Muhammad Shahrur

Muhammad Shah}ru>r lahir di Damaskus, Suriah, pada 11 April 1938,[1] putera dari perkawinan antara Deyb bin Deyb Shah}ru>r dengan S{iddi>qad binti S{a>lih Filyu>n. Shah}ru>r dikaruniai lima orang anak; T{ari>q, al-Lays, Basul, Masun dan Rima, sebagai buah pernikahannya dengan ’Azi>zah.[2]

Karir intelektual Shah}ru>r dimulai dari pendidikan dasar dan menengah yang ditempuhnya di sekolah-sekolah tempat kelahirannya. Dalam usianya kesembilan belas, tahun 1957, Shah}ru>r memperoleh ijazah sekolah menengah pada lembaga pendidikan ’Abd al-Rahma>n al-Kawa>bibi>, Damaskus. Setahun kemudian, pada bulan Maret 1958, atas beasiswa pemerintah ia berangkat ke Moskow, Uni Soviet (sekarang Rusia), untuk mempelajari teknik sipil (al-H{adatha>h al-Mada>niyah). Jenjang pendidikan ini ditempuhnya selama lima tahun mulai 1959 hingga berhasil meraih gelar Diploma pada tahun 1964, kemudian kembali ke Negara asalnya mengabdikan diri pada Fakultas Sipil Universitas Damaskus pada tahun 1965.[3]

Pada tahun 1967, Shah}ru>r memperoleh kesempatan untuk melakukan penelitian di Imperial College di London Inggris. Namun kemudian Shah}ru>rterpaksa kembali lagi ke Syiria, sebab pada waktu itu tahun 1967 terjadi "Perang Juni" antara Syiria dan Israel, yang mengakibatkan hubungan diplomatik antara Syiria dengan Inggris terputus. Dan pada waktu yang tidak lama, Universitas Damaskus mengutusnya ke Universitas Irlandia tepatnya Ireland National University (al-Ja>mi’ah al-Qau>miyyah al-Irlandiyyah) guna melanjutkan studinya menempuh program Magister dan Doktoral dalam bidang yang sama dengan spesialisasi Mekanika Pertanahan dan Fondasi (Mekanika Turba>t wa Asa>sa>t).[4]

Di tahun 1969 Shah}ru>r meraih gelar Master dan tiga tahun kemudian, 1972, ia menyelesaikan program Doktoralnya. Pada tahun ini juga ia diangkat secara resmi menjadi dosen Fakultas Teknik Sipil Universitas Damaskus mengampu mata kuliah Mekanika Pertanahan dan Geologi (Mekanika Turba>t wa Asa>sa>t) hingga sekarang. Selain kesibukannya sebagai dosen, pada tahun ini juga, ia bersama beberapa rekannya di Fakultas membuka Biro Konsultasi Teknik (Da>r al-Istih}a>ra>t al-H{andasiyah). Sepertinya, prestasi dan kreatifitas Shah}ru>r semakin meneguhkan kepercayaan Universitas terhadapnya, terbukti ia mendapat kesempatan terbang ke Arab Saudi menjadi tenaga ahli pada al-Saud Consult pada tahun 1982-1983. kemudian pada tahun 1995 Shah}ru>r juga pernah diundang untuk menjadi peserta kehormatan dan ikut terlibat dalam debat publik mengenai pemikiran keislaman di Libanon dan Maroko. Meskipun Muh}ammad Shah}ru>r basic pendidikannya teknik, namun tidak berarti ia kosong sama sekali mengenai wacana pemikirankeislaman, sebab akhirnya beliau tertarik untuk mengkaji al-Qur’a>n dan al-H{adi>th secara serius dengan pendekatan ilmu filsafat bahasa dan dibingkai dengan teori ilmu eksaktanya, bahkan beliau juga menulis buku dan artikel tentang pemikiran keislaman.

Berbagai kegiatan yang cukup menyita perhatiannya tidak menyurutkan semangatnya untuk terus berkarya dalam bidang tulis menulis. Beberapa buku dalam bidang spesialisasinya telah ditulis dan tersebar di Damaskus, seperti teknik Fondasi Bangunan (H{andasa>t al-Asa>sa>t) tiga volume dan Teknik Pertanahan (H{andasa>t al-Turba>t).

Hal yang menarik dalam bentangan sejarah perjalanan intelektual Shah}ru>r adalah perhatiannya yang cukup serius terhadap kajian-kajian keislaman. Menurutnya, umat Islam sekarang terpenjara dalam kerangkeng kebenaran yang diterima begitu saja (Musallama>t / taken for Granted) yang sebenarnya harus dikaji ulang. Kebenaran-kebenaran yang terbalik, sebagaimana sebuah lukisan yang di gambar dari pantulan kaca cermin. Semua terkesan benar padahal hakekatnya adalah salah. Sejak awal abad ke dua puluh, lanjut Shah}ru>r, muncul berbagai upaya pemikiran yang mencoba untuk meluruskan kesalahan ini dengan menampilkan Islam sebagai sebuah akidah dan tata cara hidup. Tetapi sayang, karena upaya tersebut tidak menyentuh persoalan yang paling mendasar dalam pemikiran keislaman yaitu akidah yang seharusnya dikaji secara filosofis, upaya-upaya tersebut tidak mampu mengurai dilemma pemikiran keislaman yang sebenarnya.[5]

Perkenalan dan kekaguman Shah}ru>r terhadap ide-ide Marxis[6] saat ia melanjutkan studi di Moskow - sekalipun tidak mengklaim sebagai penganut Marxis - serta perjumpaannya dengan Ja’fa>r Dakk al-Ba>b - sahabat karibnya di Moskow dan sekaligus guru dalam bidang bahasa, memiliki peran penting dalam perkembangan pemikirannya. Dari Ja’fa>r Dakk al-Ba>b, Shah}ru>r banyak belajar tentang bahasa yang mengantarkannya melakukan penelitian terhadap berbagai kosa kata penting dalam al-Qur’a>n. Diskusi Shah}ru>r dengan Ja’fa>r Dakk al-Ba>b secara intens sangat membantu menghasilkan gagasan-gagasan yang dituangkan dalam karya monumentalnya al-Kita>b wa al-Qur’a>n ; Qira>ah Mu’a>s}irah.[7]

Penyusunan buku ini berlangsung selama dua puluh tahun (1970-1990) dengan melewati tiga tahapan proses. Tahap pertama (1970-1980), merupakan masa pengkajian dan peletakan dasar awal metodologi pemahaman terhadap al-Dhikr, al-Risa>lah dan al-Nubu>wah serta beberapa kata kunci lain dalam al-Qur’a>n. dalam fase ini Shah}ru>r belum membuahkan hasil pemikiran terhadap al-Dhikr. Hal ini disebabkan karena pengaruh pemikiran-pemikiran taqli>d[8] yang diwariskan dan ada dalam khazanah karya Islam lama dan modern, di samping cenderung pada Islam sebagai ideologi (’aqi>dah) baik dalam bentuk kalam maupun fiqh madhhab. Selain itu dipengaruhi pula oleh kondisi sosial yang melingkupi ketika itu.[9]

Dalam kurun waktu 10 tahun tersebut, Shah}ru>r mendapati beberapa hal yang selama ini dianggap sebagai dasar Islam, namun ternyata bukan, karena ia tidak mampu menampilkan pandangan Islam yang murni dalam menghadapi tantangan abad 20. menurutnya, hal itu dikarenakan dua hal; Pertama, pengetahuan tentang ’aqidah Islam yang diajarkan di madrasah-madrasah beraliran Mu’tazilah atau Asy’ari. Kedua, pengetahuan tentang fiqh yang diajarkan di Madrasah-madrasah beraliran Maliki, Hanafi, Syafi’i, Hanbali ataupun Ja’fari. Menurut Shah}ru>r, apabila penelitian ilmiah dan modern masih terkukung oleh kedua hal tersebut, maka studi Islam berada pada titik yang rawan.[10]

Tahap kedua terhitung mulai 1980-1986. pada tahun 1980, Shah}ru>r bertemu dengan teman lamanya, Dr. Ja’fa>r (yang mendalami studi bahasa di Uni Soviet antara 1958-1964). Dalam kesempatan tersebut, Shah}ru>r menyampaikan tentang perhatian besarnya terhadap studi bahasa, filsafat dan pemahaman terhadap al-Qur’a>n. kemudian Shah}ru>r menyampaikan pemikiran dan Disertasinya di bidang bahasa yang disampaikan di Universitas Moskow pada 1973. topic disertasinya mengenai pandangan linguistik ’Abd al-Qa>dir al-Jurja>ni> (ahli nahwu> dan bala>ghah) dan posisinya dalam linguistik umum. Lewat Ja’fa>r, Shah}ru>r belajar banyak tentang linguistik termasuk filologi, serta mulai mengenal pandangan-pandangan al-Farra>’, Abu ’Ali> al-Farisi> serta muridnya, Ibn Jinni> dan al-Jurja>ni>. Sejak itu, Shah}ru>r berpendapat bahwa sebuah kata memiliki satu makna dan bahasa Arab merupakan bahasa yang di dalamnya tidak terdapat sinonim. Selain itu, antara nahwu> dan bala>ghah tidak dapat dipisahkan, sehingga menurutnya, selama ini ada kesalahan dalam pengajaran bahasa Arab di berbagai Madrasah dan Universitas.[11]

Sejak itu pula , Shah}ru>r mulai menganalisis ayat-ayat al-Qur’a>n dengan model baru, dan pada 1984, ia mulai menulis pokok-pokok pikirannya bersama Ja’fa>r yang digali dari al-Kita>b.

Sedangkan tahap ketiga mulai 1986-1990. dalam tahap ini, Shah}ru>r mulai intensif menyusun pemikirannya dalam topik-topik tertentu, 1985-an akhir dan 1987, ia menyelesaikan bab pertama dari al-Kita>b wa al-Qur’a>n, yang merupakan masalah-masalah sulit. Bab-bab selanjutnya diselesaikan sampai 1990.[12] Dan diterbitkan pada tahun tersebut pula. Bukunya telah menjadi sasaran pandangankritis dari pemegang otoritas keagamaan yang mapan atas dasar muatan pengetahuannya yang sangat cermat dan detil. Hingga sekarang, ia telah menerbitkan melalui penerbit yang sama, yaitu al-Aha>li>)[13] empat karya ilmiah sebagai bagian dari sebuah seri penerbitan yang disebutnya "Studi Islam Kontemporer" (Dira>sa>t Isla>miyyah Mu’a>s}irah).[14] Selain seri ini, dia telah menulis sebuah booklet kecil dan sejumlah artikel di Surat kabar.[15]

Terbitnya buku - yang dianggap oleh banyak kalangan sebagai metode baru dalam interpretasi teks kitab suci al-Qur’a>n ini - ternyata memicu kontroversi yang keras, dan dalam beberapa hal, buku Shah}ru>r merupakan karya intelektual dunia Arab yang setara dengan buku Allan Bloom, The Closing of The American Mind,[16] mereka yang tidak setuju dengan pemikirannya yang dekonstruktif dan sekaligus rekonstruktif memandangnya sebagai an Enemy of Islam (musuh Islam) dan a Western and Zionist Agent ("agen barat dan Zionis).[17] Untuk merusak otoritas persatuan umat Islam atau berkomitmen melakukan perbuatan yang tak termaafkan dalam wilayah penafsiran.[18] Bahkan karya Shah}ru>r itu jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan buku Satanic Verses (karya Salman Rusdhie).[19] Kemudian bermunculan beberapa buku lain, baik dari pihak yang pro maupun yang kontra. Di antara yang bisa disebut di sini adalah buku Taha>fut Qira>’ah Mu’a>s}irah (1985) oleh Dr. Muni>r Muh}ammad T{ahi>r al-S{awwa>f, seorang sarjana hukum dari Libanon dan buku al-Furqa>n wa al-Qur’a>n (1994) oleh Khali>d ’Abd al-Rahma>n al-Akk,[20] di samping Qira>’ah ala Kita>b al-Kita>b wa al-Qur’a>n oleh Hallah al-Qa>ri’, cendekiawan Palestina yang tinggal di Mesir. Masih ada lagi Mujarra>d al-Tanji>m, 3 Vol (1991) oleh Sa>lim al-Ja>bi> dan al-Qur’a>n al-Mu’a>s}irah li al-Qur’a>n fi al-Mi>za>n (1995) oleh Ah}mad ’Imran. Dan karya-karya para peneliti, seperti Wael B. Hallaq,[21] Dale F. Eickelmsn. Andreas Christmann dll.



--------------------------------------------------------------------------------

[1]Muh}ammad Shah}ru>r, Al-Kita>b wa al-Qur’a>n ; Qira’ah Mu’a>s}irah (Damaskus; al-Aha>li>, 1990), 823 (sekilas tentang pengarang / Bubz}ah al-Mu’allif), sebagaian penulis telah keliru mencantumkan bulan kelahiran Shah}ru>r dengan Maret (bulan ke-3 M) dan bukan April (bulan ke-4). Kekeliruan ini juga dinukil oleh beberapa penulis tanpa pelacakan lehih jauh. Lihat misalnya tulisan M. Aunul Abied Syah dan Hakim Taufiq, "Tafsir Ayat-ayat Gender Dalam al-Qur’a>n; Tinjauan terhadap pemikiran Muh}ammad Shah}ru>r dalam bacaan kontemporer" dalam M. Aunul Abied Syah (ed.), Islam Garda Depan Mosaik Pemikiran Islam Timur Tengah (Bandung; Mizan, 2001), 237.

[2]Muh}ammad Shah}ru>r, Dira>sa>h Isla>miyyah fi> al-Dawlah wa al-Mujtama>’ (Damaskus; al-Aha>li>, 1994), 8. lihat juga karya lainnya, Al-Isla>m wa al-Ima>n Manz}u>mah al-Qiya>m (Damaskus; al-Aha>li>, 1996), halaman persembahan.

[3]Shah}ru>r, Al-Kita>b wa al-Qur’a>n, Ibid.

[4]Ahmad Fwaid Syadzili, Muh}ammad Shah}ru>r; Figur Fenomenal Dari Syiria, http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=315

[5]Shah}ru>r, Al-Kita>b wa al-Qur’a>n, 29-30

[6]Ahmad Syarqawi Ismail, Rekonstruksi Konsep Wahyu Muh}ammad Shah}ru>r (Yogyakarta ; elSAQ Press, 2003), 46.

[7]Shah}ru>r, Al-Kita>b wa al-Qur’a>n, 47-48

[8]Jauh sebelum Shah}ru>r lahir, kegiatan taqli>d ini sendiri pernah terjadi di kalangan umat Islam yaitu sekitar pertengahan abad ke 4 Hijriyah, saat itu kegiatan ijtihad terhenti total, mereka lebih cenderung mengikuti pendapat Ulama>’-ulama>’ sebelumnya bahkan terkadang sangat berlebihan dalam memegang pendapat guru-guru mereka tanpa melihat apakah yang dikemukakan tersebut benat atau tidak. Alasan lain dari gerakan taqli>d adalah banyaknya Ulama>’-ulama>’ yang memberi fatwa berdasar pesanan dari penguasa saat itu, akibatnya fatwa-fatwa yang dihasilkan hanya melegitimasi dari tindakan penguasa. Ini menyebabkan ’Ulama>’-’ulama>’ lain antipati terhadap ijtihad dan lebih cenderung mengikuti (taqli>d) kepada para gurunya. Lihat Abd al-Waha>b al-Khala>f, Khula>s}ah Ta>rikh al-Tashri>’ al-Isla>mi> (Kairo; Maktabah al-Shaykh Sali>m Sa>id Nubhan, 1989), 85-98. lihat juga Mun’im A. Sirry, Sejarah Fiqh Islam, (Surabaya; Risalah Gusti, 1995), 128-130.

[9]Shah}ru>r, Al-Kita>b wa al-Qur’a>n, 46-48

[10]Ibid.

[11]Ibid.

[12]Ibid.

[13]Di Syiria, penerbit al-Aha>li> dinilai sebagai salah satu yang kurang bergengsi, tetapi tidak konvensional, juga terkenal karena gerakan sayap kirinya dan penerbitan karya-karya liberal, khususnya diakhir tahun 80-an ketika Shah}ru>r mulai menulis bagi mereka.

[14]Menariknya, empat edisi pertama dari buku pertamanya (al-Kita>b wa al-Qur’a>n) tidak diberi judul seri, indikasi yang menandai munculnya ide penulisan tersebut tampaknya baru berkembang setelah kesuksesan buku pertamanya. Buku kedua muncul pada tahun 1994 berjudul Dira>sat Isla>miyyah Mu’a>s}irah fi> al-Dawlah wa al-Mujtama’ (Studi Islam Kontemporer tentang Negara dan Masyarakat); buku ketiga berjudul al-Isla>m wa al-Imat al-Qiyam (Islam dan Iman; Pilar-pilar Utama), 1996; dan terakhir Nah}w Us}u>l Jadi>dah li al-Fiqh al-Isla>mi> pada tahun 2000. ketiga buku ini merupakan pengembangan lebih lanjut ide-ide dasar yang telah disusun Shah}ru>r pada buku pertamanya. Di dalamnya ia mengaplikasikan metodologi penafsiran al-Qur’a>n yang sama dengan sedikit variasi.

[15]Masru>’ Mu>tha>q al-’Amal al-Isla>mi> (diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris; "Proposal for an Islamic Convenant" oleh Eickelman and Abu Shehadeh, Damascus, 2000), 1 july 1999. "The Divine Text and Pluralism in Muslim Societies" di http://www.quran.org/library/articles/shahroor.htm,"Reading the Religious Text A New Approach" di http://www.islam21.net/pages/keyissues/key1-7.htm.

[16]Dale F. Eickelman dan James Piscatori, Muslim Politics (Cambridge; Princeton University Press, 1996), 170.

[17]Peter Clark "The Shah}ru>r Phenomenon; a Liberal Islamic Voice from Syiria, dalam Islam and Christian-Muslim Relations, Vol 7, Nomor 3 (1996). Lihat juga Munir Muh}ammad T{a>hir al-S{awwa>f, Taha>fut al-Dira>sat (al-Qira>’ah, sic.) al-Mu’a>s}irah fi al-Daulah wa al-Mujtama>’ (Refutation of The Contemporary Studies on State and Society) (Kerancuan Studi Kontemporer Tentang Negara dan Masyarakat), Beirut, 1993; Riyadh; Da>r al-S{awwa>f, 1995, (sebelumnya diterbitkan dengan judul: Taha>fut al-Dira>sah al-Mu’a>s}irah, Immasol; Da>r al-S{awwa>f, 1994).

[18]Diantaranya yang disebut; Yu>suf al-Sidawi yang telah menghitung terdapat sejumlah 73 kesalahan besar dalam 730 halaman al-Kita>b wa al-Qur’a>n, dalam setiap 10 halaman terdapat satu kesalahan besar; Baydat al-Di>k; Naqd Lughawi> li al-Kita>b wa al-Qur’a>n (Telur Ayam Jantan ; Kritik Linguistik terhadap buku "al-Kita>b wa al-Qur’a>n"), (Damaskus; al-Matba’ah al-Ta’awuniyyah, 1993), 123-234; Sa>lim al-Ja>bi>, Qira>’ah al-Mi’a>s}irah li al-Duktur Muh}ammad Shah}ru>r; Mujarra>t Tanzi>m kadhaba al-Munajjimu>n wa la S{adaqu>, (Damaskus; Akad, 1999), 28.

[19]Dale F. Eickelman, "Islamic Leberalism" yang dikutib oleh Sahiron Syamsuddin, "Metode Intratekstualitas Muh}ammad Shah}ru>r dalam Penafsiran al-Qur’a>n" dalam "Studi al-Qur’a>n Kontemporer; Wacana Baru Berbagai Metodologi Tafsir", (Yogyakarta; Tiara Wacana, 2002), 132.

[20]Khali>d ’Abd al-Rahma>n al-Akk, Al-Furqa>n wa al-Qur’a>n; Qira>ah Isla>miyah Mu’a"s}irah (Beirut; al-H{ikmah, 1996).

[21]Wael B. Hallaq, A History Of Islamic Legal Theories (Cambridge; CUP, 1997)


Biografi Muhammad Shahrur 9 out of 10 based on 10 ratings. 9 user reviews.


Artikel Terkait

cElOTEh sObAT BLOGGER :

Ada 0 komentar ke “Biografi Muhammad Shahrur”
:cendolbig :batabig :najis :marah :repost :2thumbup :matabelo :request :babyboy1 :sorry :travel :kimpoi :ultah :rate5 :bola :kbgt :iloveindonesia :nosara :berduka :hoax :dp :cekpm :thumbup :kr :nohope :ngacir :salahkamar :cool :mewek :babyboy :babygirl :95

ASSALAMU'ALAIKUM WR WB

BLOG ini DOFOLLOW _ Berkomenarlah Yang Baik Dan Sopan Zaaaa !!
Kalo Mau Pake EMOTICONS, sObat Hanya Cukup Menulisan Kodenya Saja... !! ( :10 :11 :13 :16 - :101 / :najis :travel :rate5 ) BE A FRIENDLY !