Wednesday, 11 August 2010

Apakah Nabi Khidir Masih Hidup ?

:


QuestionMarkBanyak kisah-kisah tentang Nabi Khidir yang ramai dibicarakan orang, banyak kontroversi tentang kemunculannya, sehingga hal itu mendorong rasa ingin tahu tentang hakikat sebenarnya. Ada yang menyatakan Nabi Khidirmasih hidup, adapula yang menyatakan Khidir sekarangberdiam di sebuah pulau, ada pula yang menyatakan bahwa setiap musim haji Nabi Khidirrutin mengunjungi padang Arafah. Entah khidir siapa dan yang mana? Tapi yang jelas begitulah khurafat dan takhayyul berkembang di tengah masyarakat kita. Lucunya, banyak pula orang-orang yang sangat mempercayai perkara-perkara tersebut.
Semua ini berpangkal dari kesalahpahaman mereka tentang hakekat Nabi Khidir. Terlebih lagi orang-orang ekstrim dari kalangan pengikut tarekat dantasawwufyang membumbui berbagai macam dongeng dan cerita bohong tentang Khidir. Sebagian di antara mereka, ada yang mengaku telahbertemu dengan Khidir, berbicara dengannya dan mendapat wasiat dan ilham darinya. Misalnya di tanah air kita ini, ada sebagian orang yang mengaku telah bertemu dengan Khidir danmengambil bacaan-bacaan shalawat, wirid-wirid dan dzikir dari Khidirsecara langsung, tanpa perantara, atau melalui mimpi. Bahkan ada pula yang mengaku dialah Nabi Khidir-Shallallahu ‘alaihi wasallam-. Semua ini adalah keyakinan batil!!
Mengenai hidup atau wafatnya Khidir, orang-orang berselisih. Ada yang menyatakan dia masih hidup. Tetapi ada juga yang menyatakan bahwa dia telah lama meninggal berdasarkan dalil-dalil dari Al-Kitab dan Sunnah. Ini merupakan pendapat para Ahli Hadits. Karena, tidak ada satupunnashyangshahih, baik dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang dapat dijadikan pegangan bahwa Khidir masih hidup. Bahkan banyak dalil yang menyatakan ia telah meninggal.

Jika kita mengadakan riset ilmiah, maka kita akan mendapatkan Al-Qur’an dan Sunnah menjelaskan bahwa Nabi Khidhir telah meninggal dunia.
Al-Allamah Ibnul Jauziy-rahimahullah-berkata,“Dalil yang menunjukkan bahwa Nabi Khidir sudah tidak ada di dunia adalah empat perkara; Al-Qur’an, As-Sunnah, ijma’ (kesepakatan) ulama’ muhaqqiqin, dan dalil aqliy”.[LihatAl-Manar Al-Munif(hal. 69)]
Di antaranya dalil-dalil itu:
Allah-Ta’ala-berfirman, yang artinya :
“Kami tidak menjadikan kehidupan abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad). Maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal”.(QS.Al-Anbiya`: 34)
Imam Abul Faraj Abdur Rahman Ibnul Jauzy-rahimahullah-berkata,“Khidhir, jika dia itu seorang manusia, maka sungguh ia telah masuk dalam keumuman (ayat) ini tanpa ada keraguan. Seorang tidak boleh mengkhususkannya dari keumuman itu, kecuali dengan dalil yang shahih”.[LihatAl-Bidayah wa An-Nihayah(1/334), cet. Maktabah Al-Ma’arif]
KemudianAl-Hafizh Abul Fida’ Ibnu Katsir-rahimahullah-menguatkan ucapan Ibnul Jauziy tadi seraya berkata,“Asalnya memang tidak boleh mengkhususkannya sampai dalil telah nyata. Sementara tidak disebutkan adanya dalil yang mengkhususkannya dari seorang yang ma’shum yang wajib diterima”.[LihatAl-Bidayah wa An-Nihayah(1/334), cet. Maktabah Al-Ma’arif ]
Allah-Azza wa Jalla-berfirman, yang artinya :
“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah berfirman, “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab,“Kami mengakui”. Allah berfirman, “Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu”.(QS. Al-Imran: 81)
Al-Hafizh Ibnu Katsir menukil dariIbnu Abbas-radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata saat menafsirkan ayat ini,“Allah tidak mengutus seorang nabi di antara para nabi, kecuali Dia mengambil perjanjian padanya. Jika Allah mengutus Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam- sedang nabi itu hidup-, maka ia (nabi itu) betul-betul harus beriman kepada beliau, dan menolongnya”.[LihatTafsir Ibnu Katsir(1/565)]
Jika Khidir masih hidup, tentunya ia tidak boleh menunda-nunda keimanannya kepada Rasulullah-Shallallahu ‘alaihi wasallam-. Ia harus mengikuti Nabi-Shallallahu ‘alaihi wasallam-, berjihad bersamanya dan menyampaikan dakwah beliau. Ini merupakan perjanjian Allah kepada seluruh para nabi dan rasul sebagaimana yang tersebut dalamQS. Al-Imran ayat 81di atas.
Ini menunjukkan kepada kita bahwa wajib bagi seorang nabi dan rasul untuk menolong dan beriman kepada Rasulullah Muhammad-Shallallahu ‘alaihi wasallam-. Bahkan Rasulullah-Shallallahu ‘alaihi wasallam-menegaskan bahwa andaikan Nabi Musa -’alaihis salam-, yang jauh lebih mulia dari Nabi Khidir masih hidup, maka ia harus mengikuti Nabi Muhammad-Shallallahu ‘alaihi wasallam-.
Nabi-Shallallahu ‘alaihi wasallam-bersabda,
“Andaikan Musa hidup, tentunya tidak mungkin baginya, kecuali harus mengikutiku”.[HR. Ahmad dalamAl-Musnad(3/387), Ad-Darimiy dalamAs-Sunan(1/115), Ibnu Abi Ashim dalamAs-Sunnah(5/2), Ibnu Abdil Barr dalamJami’ Bayan Al-Ilm(2/42), dan lainnya. Hadits ini di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalamAl-Irwa’(1589)]
Sudah dimaklumi, tidak ada satu pun riwayatshahihataupunhasan-yang dapat membuat jiwa tenang- menyebutkan bahwa Khidir pernah bertemu dengan Rasulullah-Shallallahu ‘alaihi wasallam-, tidak pula pernah ikut bersama Rasulullah dalam berbagai peperangan.
Nabi-Shollallahu ‘alaihi wasallam-bersabda,
“Tidak ada satu jiwa pun yang hidup pada hari ini telah lewat 100 tahun, sedang ia hidup pada hari itu”.[HR. Muslim dalamShahih-nya (4/1966)]
Allamah Ibnu Baththal-rahimahullah-berkata menerangkan makna hadits ini,“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam hanya memaksudkan bahwa dalam jangka waktu ini suatu generasi telah punah”.[LihatFathul Bari(1/256) karya Al-Hafizh Ibnu Hajar]
Al-Imam Abu Abdillah Al-Qurthubiy-rahimahullah-berkata dalamAl-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an(11/41),“Sesungguhnya hadits ini termasuk dalil yang memutuskan tentang kematian Nabi Khidir sekarang”.
Andaikan Nabi Khidir masih hidup, tentu ia akan datang kepada Nabi Muhammad-Shallallahu ‘alaihi wasallam-untuk menyatakan keislamannya dan akan menolong beliau dalam berdakwah dan berperang membela Islam. Tidak mungkin ada seorang Nabi pun yang masih hidup, lantas tidak datang kepada Nabi-Shallallahu ‘alaihi wasallam-untuk berbai’at, menyatakan keislamannya, dan berjihad bersama beliau.
Nabi-Shallallahu ‘alaihi wasallam-bersabda,
“Ya Allah, jika pasukan ini hancur, maka engkau tidak akan disembah lagi dimuka bumi”.[HR. Muslim dalamKitab Al-Jihad,Bab:Al-Imdad bil Mala’ikah fi Ghazwah Badr(3/1383)]
Syaikhul Islam Ahmad bin Abdil Halim Al-Harraniy-rahimahullah-berkata ketika ditanya tentang hadits di atas,“Andaikan Khidir masih hidup, maka wajib baginya untuk datang kepada Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, dan berjihad di hadapannya, serta belajar dari beliau (Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-). Sungguh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda dalam perang Badar, “Ya Allah, jika pasukan ini hancur, maka engkau tidak akan disembah lagi dimuka bumi”. Pasukan kaum muslimin waktu itu sebanyak 313 personil. Telah dikenal nama mereka, nama orang tua, dan qabilah mereka. Lantas dimanakah Khidir pada saat itu?”[LihatAl-Manar Al-Munif(hal. 68)]
Adapun dalil-dalil berupa hadits-haditsmarfu’, danmauqufyang menyebutkan tentang hidupnya Nabi Khidir sampai hari ini,maka hadits-hadits itu lemah, bahkan palsu, tidak bisa dijadikan hujjah dan dalil dalam menetapkan hukum, apalagi keyakinan (aqidah).
Al-Imam Ibrahim bin Ishaq Al-Harbiy-rahimahullah-berkata,“Tidak ada yang menyebarkan berita-berita seperti ini (yakni tentang hidupnya Khidir) di antara manusia, kecuali setan”.[LihatAl-Maudhu’at(1/199) danRuh Al-Ma’aniy(15/321) karya Al-Alusiy]
Ibnul Munadiyberkata,“Aku telah mengadakan riset tentang hidupnya Khidir, apakah ia masih ada ataukah tidak, maka tiba-tiba kebanyakan orang-orang bodoh tertipu bahwa ia masih hidup karenahadits-hadits (lemah)yang dirwayatkan dalam hal tersebut”.[LihatAz-Zahr(hal. 38)]
Ibnul Jauziysetelah membawakan beberapa hadits tentang hidupnya Nabi Khidir berkata,“Hadits-hadits ini adalah batil”.[LihatAl-Maudhu’at(1/195-197)]
Al-Hafizh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah-rahimahullah-berkata,“Hadits-hadits yang disebutkan di dalamnya tentang Khidir, dan hidupnya, semuanya adalah dusta (palsu). Tidak shahih satu hadits pun tentang hidupnya Nabi Khidir”.[LihatAl-Manar Al-Munif(hal. 67)]
Seorang ulamaSyafi’iyyah,Al-Hafizh Abul Fida’ Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy-rahimahullah-berkata setelah membawakan hadits dan kisah tentang hidupnya Khidir,“Riwayat-riwayat, dan hikayat-hikayat ini merupakan sandaran orang yang berpendapat tentang hidupnya Nabi Khidir sampai hari ini. Semua hadits-hadits yang marfu’ ini adalah dha’if jiddan (lemah sekali), tidak bisa dijadikan hujjah dalam urusan agama”.[LihatAl-Bidayah wa An-Nihayah(1/334)]
Abul Khaththab Ibnu Dihyah Al-Andalusiy-rahimahullah-berkata,“Tidak terbukti tentang pertemuan Nabi Khidir bersama dengan seorang nabi, kecuali bersama Musa, sebagaimana Allah -Ta’ala- telah kisahkan tentang berita keduanya.Semua berita tentang hidupnya tak ada yang shahih sedikitpun berdasarkan kesepakatan para penukil hadits(ahli hadits). Hal itu hanyalah disebutkan oleh orang yang meriwayatkan berita tersebut, dan tidak menyebutkan penyakitnya, entah karena ia tidak mengetahuinya, atau karena jelasnya penyakit berita tersebut di sisi para ahli hadits”.[LihatAz-Zahr An-Nadhir(hal. 32)]
Inilah beberapa dalil, dan komentar para ulama, semuanya menyatakan Nabi Khidir tidak hidup lagi atau sudah meninggal.Nyatalah kebatilan orang yang mengaku bertemu dengan Nabi Khidiruntuk menerima ajaran di luar ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad-Shallallahu ‘alaihi wasallam-. Bagaimana mungkin Khidir mengajarkan suatu ajaran di luar syari’at Nabi Muhammad-Shalallahu ‘alaihi wasallam-??! Itu pasti bukan Nabi Khidir, tapi setan yang ingin menyesatkan manusia.[ MI ]
Sumber :Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 22 Tahun I. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah - Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Muhammad Mulyadi. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)


Apakah Nabi Khidir Masih Hidup ? 9 out of 10 based on 10 ratings. 9 user reviews.


Artikel Terkait

cElOTEh sObAT BLOGGER :

Ada 4 komentar ke “Apakah Nabi Khidir Masih Hidup ?”
HARUN said...
 

dalam masalah yg sifatnya ghoib,tidak ada yg mustahil; oleh karena itu kalo perihal "ghoib" ditarik ke wilayah akal pasti akan selalu "sesat". Bagi manusia yg masih hidup dalam kekuatan akal, maka hiduplah saja dg "hal2 yg masuk akal saja". Bagi manusia yg ruhnya sudah "menjulang" ke langit (atas), perihal yg tidak masuk akal adalah perihal yg lumrah dan dialami..........

Cute Detective said...
 

bisa kah menjelaskan tentang kehadiran nabi khaidir sewaktu nabi muhammad wafat (tolong baca kisah detik2 wafatnya nabi mhammad), dan juga prilaku nabi khadir yg aneh ketika bertemu nabi musa, seprti membuat lubang di perahu, memperbaik sebuah rumah yg hampir ambruk bahkan membunuh seorang anak dan ketika beliau menjelaskan alasannya kepada nabi musa, seperti seolah2 dia mengerti akan masa depan, padahal tdk ada satu mahlukpun selain sang pencipta yg mampu mengetahui msa depan, mungkinkah nabi khaidir mengetahui masa depan karena memang beliau mengetahui masa depan dan mungkinkah nabi khaidir itu adalah seorang time travel?, mungkin kah nabi khaidir lah yg membawa nabi isa sehingga nabi isa terhindar dari penyalibannya oleh orang romawi dan nabi isa di bawa ke masa depan di mana di akhir jaman akan muncul kembali, tentang mengapa nabi khaidir tdk mengikuti atau tidak membantu nabi muhammad, karena nabi khaidir mempunyai tugas nya sendiri, seperti yg di jelaskan kepada nabi musa, ilmu pengetahuan yg di berikan Allah SWT kepada nabi khaidir dan nabi musa itu berbeda dan oleh karena itu mereka mempunyai tugasnya masing2

Cute Detective said...
 

Sesuatu yg datangnya dari Sang Pencipta itu MUTLAK Kebenaran nya karena itu berlaku utk selamanya. jika akal manusia saat ini belum dapat mencapainya maka cukuplah di imani / di percaya saja, dalam jangka waktu 100 tahun saja telah banyak terjadi perubahan, orang yg hidup 100 tahun yg lalu mungkin akan mengatakan anda gila jika anda mengatakan dapat berbicara dengan orang yg berada jauh tempatnya, tatapi hari ini yg seperti itu bisa di lakukan dengan adanya mobile phone (hp)

Muhammad Ramadan said...
 

Everything is possible time is getting shorter as you speak when we travel in speed where no long before our time those people have to journey a long great distance that took them months to reach their final destination when we now a days took days to reach our destination. Isnt that is true?instead of wondering about our Prophet why not use ur precious time to commit doing good deeds instead ?

:cendolbig :batabig :najis :marah :repost :2thumbup :matabelo :request :babyboy1 :sorry :travel :kimpoi :ultah :rate5 :bola :kbgt :iloveindonesia :nosara :berduka :hoax :dp :cekpm :thumbup :kr :nohope :ngacir :salahkamar :cool :mewek :babyboy :babygirl :95

ASSALAMU'ALAIKUM WR WB

BLOG ini DOFOLLOW _ Berkomenarlah Yang Baik Dan Sopan Zaaaa !!
Kalo Mau Pake EMOTICONS, sObat Hanya Cukup Menulisan Kodenya Saja... !! ( :10 :11 :13 :16 - :101 / :najis :travel :rate5 ) BE A FRIENDLY !