Saturday, 5 May 2012

Tasawuf Dan Dzun Nun Al-Misri

:

1.       MAHABBAH

Dzun Nun Al-Misri hidup didunia hanya untuk menambahkan jalan untuk menuju Allah. Tujuan beliau adalah “Mencintai Tuhan, membenci yang sedikit, menurut garis perintah yang diturunkan dan takut akan berpaling jalan”.
Ketika ditanyai orang, apa sesungguhnya hakikat cinta itu. Menurutnya orang-orang yang mencintai Allah adalah mengikuti kekasihnya, yakni Nabi Muhammad s.a.w. dalam hal akhlaq, segala perintah dan sunnahnya[1]. Artinya orang-orang yang mencintai Allah senantiasa mengikuti sunnah rasul, tidak mengabaikan syari’at.
Untuk memahami lebih jauh tentang Mahabbah, ia mengatakan bahwa ada tiga simbol Mahabbah yaitu :
  1. Rido terhadap hal-hal yang tidak disenangi
  2. Berprasangka baik kepada sesuatu yang belum diketahui
  3. Berlaku baik terhadap menentukan pilihan dan hal-hal yang diperingatkan[2]
Beliau juga memberi penjelasan  tentang cinta. Bahwa cinta yaitu hubungan timbal balik diantara khalik dengan makhluq, diantaranya menyintai dengan hal yang dicintai. Ajaran ini hanya dapat dirasakan setelah menempuh maqam-maqam tertentu. Begtulah menurut beliau. Cinta hanya dapat dirasakan dengan sia-sia kalau diajarkan.

2.      MA’RIFAT
Dzun Nun Al-Misri adalah pelopor paham Ma’rifat. Penilaiannya ini sangatlah tepat karena berdasarkan riwayat Al-Qathfi dan AL-Mas’udi yang kemudian dianalisis Nicholson dan Abd. Al-Qadir dalam falsafah Al-Sufiah Al-Islam. Al-Misri memperkenalkan corak baru tentang Ma’rifat dalam bidang Sufisme Islam antara lain :
  1. Ia membedakan antara Ma’rifat sifiyah dengan Ma’rifat aqliyah. Ma’rifat Sufiyah cenderung menggunakan pendekatan qalb yang biasa digunakan para Sufi. Sedangkan Ma’rifat aqliyah cenderung menggunakan pendekatan akal yang biasa digunakan oleh para Teoloq.
  2. Menurut beliau Ma’rifat sebenarnya aalah Musyahidah Qalbiyah (penyaksian hati) sebab Ma’rifat merupakan fitrah dalam hati manusia sejak azali
  3. Teori-teori Ma’rifatnya dianggap sebagi jembatan menuju teori-teori wahdat Asy-Syuhud dan ijtihad. Ia pun dipandang sebagai orang yang pertama kali memasukkan unsure falsafah dalam tasawwuf.[3]
Lain dari pada itu pandangannya tentang hakikat Ma’rifat sebagai berikut :
  1. Sesungguhnya Ma’rifat yan hakiki bukanlah ilmu tentang ke-Esaan Tuhan, sebagaimana yang dipercaya orang-orang mukmin, mutakallimin dan ahli balaghah, akan tetapi Ma’rifat terhadap ke-Esaan Tuhan itu khusus dimiliki oleh para Nabi Allah. Sebab merekalah yang bisa menyaksikan kehadiran Allah dengan mata hatinya.
  2. Ma’rifat yang sebenarnya adalah bahwa Allah menyinari hatimmu dengan cahaya Ma’rifat yang murni seperti matahari tidak dapat dilihat kecuali dengan cahayanya.
Intinya dari kedua pandangan diatas menyatakan bahwa Ma’rifat kepada Allah tidak dapat ditempuh melalui pendekatan akal dan perbuatan-perbuatan tetapi dengan jalan Ma’rifat batin, maksudnya Tuhan menyinari hati manusia dan menjaganya dari kecemasan sehingga semua yang ada didunia ini tidak mempunyai arti lagi.
Dzun Nun Al-Misri membagi 3 macam pengetahuan tentang Tuhan antara lain :
  1. Pengetahuan untuk seluruh muslim (mu’min biasa)
  2. Pengetahuan untuk ahli bicara (Mutakallimin)
  3. Pengetahuan untuk Waliullah yang dekat kepada Allah dan kenal akan Allah dalam hatinya. Ma’rifat inilah yang setinggi-tinggi martabat.
Dalam pembagian ini terbayanglah kejelasan ke-3 macam Ma’rifat itu.
  1. Orang mu’min biasa mengenal Allah karena memang demikian ajaran yang diterimanya.
  2. Orang filosof dan mutakallimin mencari Allah dengan perjalanan akalnya. Oleh perhitungan akal dan mantiq, maka mengakulah akan adanya, tetapi belum rasakan akan kelezatannya.
  3. orang muqarrabin mencari Allah dengan pedoman cinta yang diutamakan adalah ilham atau faidah yaitu  limpah karunia Allah
Dalam penjelasan rohani Dzun Nun Al-Misri mempunyai sistematika sendiri tentang jalan menuju tingkat Ma’rifat dan digambarkan oleh Al-Hamid Mahmud :
  1. Orang yang bodoh adalah orang yang tidak mengenal jalan menuju Allah dan tidak ada usaha untuk mengenalnya.
  2. Jalan menuju Ma’rifat ada 2 macam yaitu ;
1.      Thariq al-Inabah
2.      Thariq al-Ihtiba’
  1. Manusia ada 2 macam yaitu ;
1.      Darij
2.      Wasil
Sedangkan cara memperoleh Ma’rifat menurut Al-Misri adalah mengenal Tuhan dengan (bantuan) Tuhan. Kalau bukan karena bantuannya saya tidak mungkin mengenalnya.

عرفت ربي ولو لا ربي كما عرفت ربي

Maksudnya ;
Ma’rifat tidak diperoleh begitu saja tetapi merupakan pemberian Tuhan r, rahmad dan nikmat-Nya.[4]
Jadi pusat Ma’rifat adalah adanya komunikasi cahaya dari Tuhan kedalam hati nurani seseorang, artinya ; orang yang sudah mencapai Ma’rifat tidak lagi dalam diri mereka tetap dalam Tuhan. Semua gerakan disebabkan oleh Tuhan.
Selanjutnya, K.A. Nicholson menjelaskan bahwa menurut kaum Sufi ada 3 komponen dalam diri manusia agar memperoleh Ma’rifat :
1.         Qalb         : dapat mengetahui sifat-sifat Allah.
2.         Ruh          : adalah alat atau komponen untuk mencintai Tuhan.
3.          Sirr           : sebagai alat yang dapat melihat Tuhan yang bertempat      didalam                       .                  ruh 
Ciri-ciri Ma’rifat :
1.          Seseorang menerima segala sesuatu itu adalah atas nama allah apapun bentuknya menyenangi segala sesuatu hanya semata-mata karena Allah.
2.          Ia tidak berkeyakinan bahwa ilmu batin merusak hukum lahir
3.          Banyaknya nikmat Tuhan tidak mendorongnya meghancurkan tirai-tirai larangan Tuhan.[5]

3.      MAQOMAT DAN AHWAL
Yang menyebabkan manusia jauh dari Tuhan adalah karena dosa. Sebab dosa adalah sesuatu yang kufur, sedangkan Allah maha suci dan menyukai yang suci. Oleh karena itu apabila seseorang ingin mendekatkan diri kepada-Nya atau ingin melihatnya, maka ia harus membersihkan dirinya dari segala dosa dengan jalan bertobat.
AL-MISRI membagi beberapa hal Maqomat (jenjang menuju Sufi) antara     lain :
1.       Tobat.
a.       Tobat Khuwas            : tobat karena kelalaian (dari mengingat Allah).[6]
Dalam ungkapan lain Al-Junaidi mengatakan bahwa tobat adalah engkau melupakan dosamu, sehingga pada tahap ini orang-orang yang mendambakan hakekat tidak lagi mengingat dosa mereka pada keesaan Tuhan dan dzikir yang berkesinambungan.[7]
b.      Tobat Awam   : tobat yang dilakukan oleh orang awam dari dosa yang dilakukan.
Dan proses selanjutnya tobat terbagi 3 tingkatan.[8]
1.      Orang yang bertobat dari dosa dan keburukannya.
2.      Orang yang bertobat dari kelalaian dan kealfaan mengingat Tuhan
3.      orang yang bertobat karena memandang kebaikan dan ketaatannya
2.       Ash-Shoba.
Tidak termasuk cinta yang benar bagi orang yang tidak bersabar dalam menghadapi cobaan dan tidak benar pula cintanya orang yang merasakan kenikmatan dari suatu cobaan ini dialami ketika hak dan kedua tangannya dibelenggu.
3.       Al-Tawakkal
Adalah penyerahan diri sepenuhnya kepada allah disertai perasaan tidak memiliki kekuatan.[9] Hilangnya daya dan kekuatan seolah-olah mengandung arti pasif dan mati.
4.       Ar-Niqho
Adalah kegembiraan hati menyambung ketentuan Tuhan baginya dan pendapat ini sejalan al-Qonnad (bahwa ridho itu ketenangan hati dengan berlakunya ketentuan Tuhan).
AL-MISRI menjelaskan ahwal (karakteristik Sufi) dan menjadikan Mahabbah (cinta kepada Tuhan) sebagai urutan pertama dengan 4 ruang lingkup pembahasan tentang tasawuf. Menurutnya tanda-tanda orang-orang yang mencintai allah adalah yang mengikuti kekasihnya yakni Nabi Muhammad s.a.w. dalam hal akhlaq segala perintah sunnahnya.[10]
Sehingga dalam pemikirannya ada 3 simbol Mahabbah :
1.           Rido terhadap hal-hal yang tidak disenangi.
2.           Berprasangka baik terhadap sesuatu yang belum diketahui
3.           Berlaku dalam menentukan pilihan dan hal-hal yang diperingatkan.



[1] Muhammad Mahdi ‘Allam, Dairat al-Ma’arif Al-Islamiyah, hal 422
[2] ibid hlm, 425
[3] Abd. Qadir Mahmud, Falsafatu Ash-Shufiah Fi Al-Islam, Dar Al-Fikr Al-A’rab, Kairo, hal 306
[4] Ahmad Bin ‘Athaillah. Al-Hawash Li Tahazib An-Nafs. Hlm. 20
[5] Abd. Nashr Al-Sarraj Al-Thusi. Al-Luma’, Dar Al-Kutub Al-Haditsah, Mesir. Hal 61
[6] ibid. hlm. 69.
[7] Ibid. Hal 69.
[8] Ibid Hal. 69
[9] Ibid. Hal 73
[10] Muhammad Mahdi Allam dalam ‘Inat al-Ma’arif al-Islamiyyah. Hal. 422.


Tasawuf Dan Dzun Nun Al-Misri 9 out of 10 based on 10 ratings. 9 user reviews.


Artikel Terkait

cElOTEh sObAT BLOGGER :

Ada 0 komentar ke “Tasawuf Dan Dzun Nun Al-Misri”
:cendolbig :batabig :najis :marah :repost :2thumbup :matabelo :request :babyboy1 :sorry :travel :kimpoi :ultah :rate5 :bola :kbgt :iloveindonesia :nosara :berduka :hoax :dp :cekpm :thumbup :kr :nohope :ngacir :salahkamar :cool :mewek :babyboy :babygirl :95

ASSALAMU'ALAIKUM WR WB

BLOG ini DOFOLLOW _ Berkomenarlah Yang Baik Dan Sopan Zaaaa !!
Kalo Mau Pake EMOTICONS, sObat Hanya Cukup Menulisan Kodenya Saja... !! ( :10 :11 :13 :16 - :101 / :najis :travel :rate5 ) BE A FRIENDLY !